Oleh: Dwi Taufan Hidayat
DI zaman ini, kelas sosial tidak berhenti saat mati, malah berlanjut ke liang lahat. Di San Diego Hills, harga kavling kuburan bisa mencapai miliaran rupiah. Jadi bukan sekadar soal keabadian, tetapi juga urusan status dan gaya hidup. Kuburan kini dijual layaknya properti mewah yang mencerminkan kekuatan finansial semasa hidup.
San Diego Hills Memorial Park di Karawang bukan lagi sekadar tempat peristirahatan terakhir, ini produk kapitalis yang mengemas kematian dalam kantong high end. Harga Single Burial mulai dari Rp109 juta hingga Rp128 juta, sementara tipe paling eksklusif, Peak Estate, bisa menembus Rp9,5 miliar per unit. (Brilio.net, 2 Juni 2025)
https://www.brilio.net/wow/harga-capai-rp95-m-per-unit-tetap-diminati-ini-7-fakta-san-diego-hills-pemakaman-elit-di-indonesia-2506025.html
Tempat ini dilengkapi fasilitas yang biasa ditemui di hotel bintang lima: kapel, restoran Italia, danau buatan, taman luas, bahkan jogging track dan helipad. Bukannya untuk keluarga peziarah, semua ini terasa seperti taman hiburan, bukan makam. (Brilio.net, 2 Juni 2025)
Harga tersebut disesuaikan berdasarkan faktor lokasi, arah kiblat, dan fasilitas tambahan. Untuk yang ingin kemewahan ekstra seperti gazebo atau patung, harganya bisa melambung hingga miliaran rupiah. (Brilio.net, 2 Juni 2025)
Makna kesederhanaan spiritual kini tergeser oleh brosur marketing: cicilan 0 persen, diskon early bird, serta paket pre need menjadikan makam sebagai investasi warisan prestise. Dibungkus rapi seperti apartemen mahal. (SalesSandiegohills.com, Juli 2025)
https://salessandiegohills.com/harga-pemakaman-terbaru-san-diego-hills-memorial-park
Ironisnya, saat masyarakat umum masih kesulitan mendapatkan lahan kubur TPU, elite malah membeli kavling seharga villa sambil berlomba tampil konten Instagram. Makam kini bukan sekadar penghormatan terakhir, tetapi ajang etalase status sosial. (Brilio.net, 2 Juni 2025)
Ini bukan hanya soal harga. San Diego Hills muncul dari inisiatif Mochtar Riady yang lelah bolak balik Malang Jawa Barat untuk ziarah, akhirnya memindahkan makam orang tua ke tanah seluas 350 hektare milik Lippo Group. Ide awal: menciptakan zona maksi nyaman, jauh dari citra menyeramkan TPU biasa. (Brilio.net, 2 Juni 2025)
James Riady kemudian melakukan riset panjang mengadaptasi konsep Forest Lawn dari California, mengubah pemakaman menjadi landscape commercial. Tujuannya bukan hanya tempat mati, tapi objek wisata bernilai jual. (Wikipedia dan Brilio.net, 2025)
Kritik terhadap ide ini nyaris tidak terdengar. Sebagian besar media malah memuji kemegahannya, bukan mempertanyakan moral dan spiritualitasnya. Netizen pun menyatakan iri: โgue mau mati di sana.โ Padahal sejatinya, kematian seharusnya menyatukan, bukan membedakan status sosial. (Liputan6.com, 4 Januari 2024)
https://www.liputan6.com/tag/san-diego-hills
Belum lagi fakta bahwa ini menjadi objek investasi, tanah pascamati yang bisa dijual kembali, diwariskan, atau bahkan menjadi bukti keberhasilan ekonomi keluarga. Kemewahan dipertahankan bahkan setelah mati. (Liputan6.com, Maret 2007)
https://www.liputan6.com/news/read/139163/berziarah-sambil-berwisata-di-san-diego-hills
Jika tren ini berlanjut, jangan heran jika di masa depan bakal ada โkubur pintarโ dengan WiFi, sistem pendingin, dan notifikasi sosial media untuk pelayat: โJenazah Anda telah disukai oleh 1.243 orang.โ Karena sekarang kematian pun harus Instagrammable. Kita harus bertanya: apakah kita memperdagangkan makna kematian, atau masih memiliki ruang untuk nilai spiritual tanpa label harga?
Selamat datang di dunia baru, di mana kematian dijual. Anda bisa memilih paket VIP bahkan di liang lahat. Dan besar kemungkinan, paket โakses awal ke surgaโ sudah tersedia di katalog properti pascamati.






