Oleh: Dwi Taufan Hidayat
SAAT listrik padam, kita panik: mengecas ponsel, menyalakan lilin, bergegas ke toko. Semua demi terhindar dari gelap beberapa jam.
Namun, siapa sangka, di balik kepanikan itu tersembunyi rahasia yang perlahan menampar hati. Karena kita sering lupa menyiapkan cahaya sejati: amal saleh, yang kelak jadi satu-satunya pelita dalam gelapnya kubur.
Malam itu, langit tampak murung. Awan hitam menggulung, seperti lembaran kain kafan yang hendak menutup bumi. Di sebuah rumah di pinggir kota, Soraya duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya yang baterainya menipis. Ia terlihat gelisah, jari-jarinya menari di layar seolah mengejar sisa cahaya sebelum benar-benar padam.
“Duh, mati listrik lagi,” gumamnya.
Ia bergegas mengambil power bank, menyalakan lilin, lalu menyiapkan senter di sudut meja. Kompor dinyalakan, panci bergolak. Soraya memasak mi instan dua bungkus, seakan kegelapan akan menelannya jika perutnya tak segera diisi.
Sementara itu, di grup WhatsApp keluarga, semua orang ribut mengabarkan persiapan mereka. Ada yang membeli air galon tambahan, ada yang berbondong ke warung membeli roti, ada yang menyiapkan genset. Semua begitu panik, begitu siap.
“Alhamdulillah, semua aman. Tinggal nunggu lampu nyala lagi,” tulis Soraya di grup.
Setelah makan, Soraya duduk kembali, menatap lilin yang menetes perlahan. Sesekali ia menghela napas panjang, membayangkan film yang tertunda ditonton, drama Korea yang menggantung di episode klimaks.
Namun tiba-tiba, dering ponsel bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal.
> “Bagaimana dengan bekalmu untuk gelap yang abadi?”
Soraya tertegun. Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali, keningnya berkerut.
> “Siapa ini?” balasnya cepat.
Tak ada jawaban. Lilin di depannya seakan mengecil, api bergoyang lemah seperti denyut jantung yang perlahan redup. Soraya meneguk air, jantungnya berdegup lebih cepat daripada biasanya.
Ia mendongak ke arah dinding, melihat kalender yang menandai banyak agenda: rapat kantor, acara reuni, jadwal liburan. Tapi tak satu pun tertulis tentang “persiapan akhirat”.
Soraya teringat kata ibunya dulu, “Nak, gelap kubur hanya bisa diterangi amalmu. Bukan lilin, bukan senter.”
Ia tertawa kecil waktu itu. Baginya, itu hanya petuah basi. Namun malam ini, kata-kata itu menamparnya.
Pikirannya melayang ke masa lalu: malam-malam yang ia habiskan begadang menonton drama, pagi-pagi yang terlewat salat Subuh, uang yang habis untuk belanja online alih-alih sedekah. Semua itu berkelebat seperti slide film yang diputar cepat.
Tangannya bergetar saat ia meraih mushaf Al-Qur’an yang berdebu di rak. Perlahan ia buka halaman pertama, jari-jarinya menyusuri huruf demi huruf. Air matanya menetes.
Tiba-tiba, listrik menyala. Rumah kembali terang. Tetangga bersorak, suara televisi kembali berdentum dari rumah sebelah. Soraya menutup mushafnya, menoleh ke ponsel yang kini menyala penuh. Notifikasi berderet: promo belanja, diskon tiket, pesan dari teman-teman.
Ia terdiam, lalu perlahan tersenyum. “Ah, sudah nyala. Nanti saja lanjut bacanya,” katanya lirih, sambil meletakkan mushaf dan meraih remote TV.
Ia kembali larut dalam dunia drama Korea, menertawakan adegan lucu, menahan napas di adegan haru. Pesan misterius tadi menguap, seperti asap lilin yang padam tertiup angin.
Malam semakin larut. Di antara tawa dan tangis palsu drama itu, tiba-tiba ponselnya bergetar keras. Layar menampilkan notifikasi panggilan tak dikenal, diikuti pesan singkat yang sama:
> “Bekalmu untuk gelap abadi sudah cukupkah?”
Kali ini, Soraya membeku. Suara di televisi mendadak hilang, lilin kembali menyala di sudut, padahal listrik masih menyala.
Ia merasakan sesak di dada. Tangannya kaku, napasnya terengah. Perlahan, matanya menatap ke arah mushaf yang tadi ia abaikan.
Sekilas, ia melihat bayangan hitam berdiri di samping pintu. Matanya kosong, kulitnya pucat. Soraya hendak berteriak, namun suaranya tertahan di kerongkongan.
Bayangan itu mendekat, membawa wangi bunga kamboja yang menusuk hidung. Dalam sekejap, suhu tubuhnya turun drastis, keringat dingin membanjiri keningnya.
“Sudah siap?” bisik bayangan itu, suara yang menyerupai dengungan lebah di telinga.
Soraya meraih ponsel, ingin menelpon siapa saja, tapi layar ponsel memudar. Tak ada sinyal, tak ada nama, hanya tulisan samar:
> “Waktumu habis.”
Ia merasakan kegelapan yang berbeda. Bukan gelap karena listrik padam, tapi gelap yang menembus tulang, yang tak bisa diusir dengan lilin atau senter.
Saat tubuhnya ambruk ke lantai, satu kalimat terngiang di kepalanya:
> “Dan takutlah kalian pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah.”
Sementara di layar televisi, drama Korea itu tetap berjalan. Karakter-karakter di dalamnya tertawa bahagia, seakan tak peduli bahwa penontonnya baru saja diambil ajal.
Dan di luar rumah, tetangga-tetangga masih sibuk memeriksa charger, menyiapkan lilin cadangan. Tak ada yang tahu bahwa Soraya, sang pemeran utama di drama kehidupannya sendiri, baru saja menyelesaikan episode terakhir tanpa sempat menyiapkan bekal untuk gelap abadi.






