banner 728x90

Pandemi COVID-19, Anggaran UMKM Rp123,46 Triliun Baru Terserap Rp44,3 Triliun

JAKARTA, BABEMOI – Dana segar sebesar Rp695,2 triliun digelontorkan pemerintah dalam program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN). Catat! Dari jumlah itu, Rp123,46 triliun di antaranya untuk mendukung UMKM.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, BI bersama pemerintah akan berbagi beban (burden sharing) dalam mendukung program PEN, yakni dengan mengalokasikan Rp177 triliun untuk non-public goods.


Nah, belanja untuk non-public goods itu terdiri atas dukungan kepada UMKM sebesar Rp123,46 triliun dan pembiayaan korporasi mencapai Rp53,6 triliun.

“Dari Rp177 triliun yang non-public goods untuk UMKM dan korporasi, yang baru direalisasikan untuk UMKM baru Rp44,3 triliun, padahal kami sudah alokasikan itu Rp177 triliun dan kami siap berbagi beban,” kata Perri Warjiyo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR secara virtual pada Senin, 2 Agustus 2021.

Artinya, masih ada anggaran untuk UMKM sebesar Rp79,16 triliun dan untuk korporasi sebesar Rp53,6 triliun.

Adapun Komite PC-PEN sebelumnya mengungkapkan hingga 16 September 2020, (penyerapan) alokasi program pembiayaan korporasi masih 0 persen, tapi ditargetkan terealisasi 92 persen atau sekitar Rp49 triliun hingga akhir 2021 ini.

Dalam skema berbagi beban dengan pemerintah itu, jelas Perry, pemerintah hanya menanggung reverse repo 3 bulan dikurangi 1 persen atau sekitar 2,7-2,8 persen.

Sementara bank sentral menanggung beban dengan perhitungan yield atau imbal hasil surat berharga negara (SBN) di pasar yang saat ini 6,8 persen dikurangi 2,7 persen atau 2,8 persen.

Perry Warjiyo juga menyebut BI ikut mendorong UMKM naik kelas, di antaranya dengan membina UMKM, mempertemukan mereka dengan pelaku bisnis termasuk dengan pedagang daring hingga teknologi keuangan, juga mendorong digitalisasi UMKM sejalan dengan program Bangga Buatan Indonesia.

BI juga mendorong layanan perbankan secara terbuka (open banking) melalui sistem pembayaran berbasis aplikasi barcode atau QRIS.

Berdasarkan survei United Overseas Bank (UOB), Accenture, dan Dun & Bradstreet, diketahui bahwa para pelaku UKM di Indonesia tidak segan berinvestasi dalam teknologi untuk menjalankan usaha mereka, walaupun 91 persen dari industri UKM tersebut diprediksi akan mengalami penurunan pendapatan pada tahun ini.

Paul Kan, Head of Business Banking, UOB Indonesia menjelaskan survei terhadap 1.000 UKM di ASEAN itu menyebutkan, 57 persen atau mayoritas responden suvei di Indonesia menyatakan tetap optimistis perekonomian akan membaik setelah pandemi berakhir.

“Mereka siap untuk memanfaatkan teknologi dalam mendorong daya saing serta keberlanjutan mereka,” papar Paul Kan.

Survei mutakhir itu juga menunjukkan investasi dalam teknologi akan dimanfaatkan untuk membangun kemampuan digital dalam hal penjualan dan layanan (85 persen), pemasaran secara digital dan media sosial (76 persen), serta pengelolaan jaringan dan teknologi (64 persen).

Selain berinvestasi dalam teknologi, masih berdasarkan survei, industri UKM di Indonesia juga tengah mempertimbangkan untuk berinvestasi pada tanah, bangunan, mebel dan peralatan atau perbaikan terkait (49 persen), serta keahlian pekerja (43 persen).

Mau punya Media Online sendiri?
Tapi gak tau cara buatnya?
Humm, tenang , ada Ar Media Kreatif , 
Jasa pembuatan website berita (media online)
Sejak tahun 2018, sudah ratusan Media Online 
yang dibuat tersebar diberbagai daerah seluruh Indonesia.
Info dan Konsultasi - Kontak 
@Website ini adalah klien Ar Media Kreatif disupport 
dan didukung penuh oleh Ar Media Kreatif